Halo, MikroSob
Bayangkan seorang pasien datang ke poli penyakit dalam. Sebelum memberikan resep, dokter perlu memastikan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, absolute neutrophil count, dan jumlah trombositnya (pemeriksaan darah rutin) untuk menentukan diagnosis.
Pada saat ini atau kita kenal sebagai sistem konvensional, darah pasien diambil, dikirim ke laboratorium sentral, diperiksa dengan hematology analyzer, divalidasi, kemudian hasilnya dikirim kembali ke klinisi. Seluruh proses tersebut dapat berlangsung cukup lama, terutama bila jarak unit pelayanan dengan laboratorium jauh, pengiriman sampel tidak rutin, atau laboratorium sedang menghadapi volume pemeriksaan yang tinggi.
Bagaimana apabila pemeriksaan darah rutin dapat dilakukan langsung di dekat pasien dan hasilnya tersedia ketika pasien masih berada di ruang pemeriksaan?
Inilah konsep point-of-care testing atau POCT.
POCT bukan berarti pemeriksaan dilakukan secara sembarangan di luar laboratorium. Istilah ini berdasar pada pemeriksaan yang dilakukan dekat dengan lokasi pelayanan pasien sehingga hasil dapat diperoleh lebih cepat dan segera digunakan untuk pengambilan keputusan klinis. POCT pun bukan merupakan barang baru, saat ini sudah dilakukan untuk pemeriksaan Gula Darah, Kolesterol, Asam Urat, Hemoglobin, Hematokrit, Kreatinin dan sebagainya.
Perkembangan teknologi miniaturisasi, mikrofluida, digital imaging, dan machine vision kini memungkinkan pemeriksaan complete blood count atau CBC dilakukan menggunakan alat yang jauh lebih kecil daripada hematology analyzer di laboratorium sentral.
Namun, muncul satu pertanyaan penting:
Apakah POCT darah rutin memberikan hasil yang cukup akurat untuk digunakan dalam keputusan klinis?
Pertanyaan tersebut diteliti oleh Ryan C. Shean dan Sterling T. Bennett dalam artikel berjudul: Clinical Evaluation of a Novel Point-of-Care Hematology Analyzer for Complete Blood Count With Differential.
Artikel ini dipublikasikan secara daring pada 8 Desember 2025 dan dimuat dalam International Journal of Laboratory Hematology, Volume 48 Nomor 2, April 2026, halaman 353–364. Penelitian tersebut membandingkan hematology analyzer POCT HemoScreen dengan Sysmex XN yang digunakan di laboratorium sentral

Mengapa pemeriksaan POCT darah rutin menarik?
Pemeriksaan darah rutin merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang paling sering digunakan dalam pelayanan medis. Hasilnya membantu dokter mengevaluasi anemia, infeksi, inflamasi, gangguan perdarahan, keganasan hematologi, serta efek berbagai pengobatan terhadap sel darah.
Pada pelayanan tertentu, hasil CBC tidak hanya menjadi informasi tambahan, tetapi menentukan apakah suatu tindakan dapat segera dilakukan.
Contohnya meliputi:
- Pemberian kemoterapi
- Transfusi eritrosit atau trombosit
- Pemantauan neutropenia akibat obat
- Pemantauan pasien yang menggunakan clozapine
- Evaluasi awal pasien dengan demam atau dugaan infeksi
- Penilaian anemia dan perdarahan akut
- Pemantauan pasien yang tinggal jauh dari laboratorium sentral
Hematology analyzer POCT berpotensi mengurangi waktu tunggu, mempercepat alur pelayanan, dan memungkinkan dokter menjelaskan hasil ketika pasien masih berada di tempat pemeriksaan.
HemoScreen merupakan analyzer desktop yang menggunakan cartridge sekali pakai berisi reagen dan sistem mikrofluida. Sel-sel darah difokuskan ke dalam satu bidang menggunakan teknologi viscoelastic focusing, kemudian difoto dan diklasifikasikan melalui digital imaging serta algoritme machine vision. Alat ini menghasilkan CBC dan hitung jenis leukosit lima bagian dari darah vena atau kapiler.

Berbeda dengan analyzer hematologi sentral berkapasitas besar, sistem cartridge mengurangi kebutuhan penanganan reagen, pencucian jalur cairan, dan pemeliharaan rutin. Namun, kemudahan operasional tidak otomatis menjamin bahwa hasil semua parameter identik dengan analyzer laboratorium sentral.
Apa tujuan penelitian ini?
Penelitian Shean dan Bennett bertujuan mengevaluasi kinerja HemoScreen dalam kondisi pelayanan yang mendekati praktik nyata.
Peneliti tidak hanya menggunakan sampel dari satu kelompok pasien, tetapi mengambil sampel dari empat setting klinis:
- Unit rawat inap
- Instalasi gawat darurat
- Klinik rawat jalan
- Pusat infus atau infusion center
Hasil HemoScreen dibandingkan dengan hasil Sysmex XN yang digunakan sebagai analyzer di laboratorium sentral dalam sistem pelayanan kesehatan terintegrasi.
Pendekatan ini penting karena kinerja suatu alat dapat terlihat sangat baik dalam kondisi validasi yang terkontrol, tetapi menghadapi tantangan berbeda ketika digunakan pada sampel pelayanan rutin dengan variasi diagnosis, derajat penyakit, nilai ekstrem, interferensi, dan kondisi preanalitik.
Bagaimana penelitian dilakukan?
Penelitian dilakukan antara 15 September dan 20 November 2020.
Sebanyak 199 sampel darah EDTA diperiksa, terdiri atas:
| Lokasi pelayanan | Jumlah sampel |
|---|---|
| Instalasi gawat darurat | 49 |
| Rawat inap | 50 |
| Rawat jalan | 50 |
| Infusion center | 50 |
| Total | 199 |
Sampel terlebih dahulu diperiksa menggunakan salah satu dari tiga analyzer Sysmex XN di laboratorium sentral. Sisa sampel yang telah dihilangkan identitasnya kemudian diperiksa dalam waktu maksimal 10 menit menggunakan salah satu dari dua analyzer HemoScreen. Setiap sampel hanya diperiksa pada satu Sysmex XN dan satu HemoScreen.
Peneliti membandingkan parameter utama CBC dan hitung jenis leukosit menggunakan:
- Korelasi Pearson
- Regresi linear
- Perbedaan rerata
- Paired t-test
- Bland–Altman analysis
- Analisis subkelompok berdasarkan setting pasien dan pasangan analyzer
Selain itu, sampel yang memperoleh flag tertentu dari HemoScreen dibuatkan apusan darah tepi dan diperiksa menggunakan hitung jenis manual 100 leukosit.
Flag yang memicu pemeriksaan lanjutan meliputi:
- Sel abnormal dengan hasil tetap ditampilkan
- Sel abnormal dengan hasil differential ditekan
- Platelet clumps
- Distribusi volume trombosit abnormal
- Leukopenia di bawah batas tertentu
Pendekatan ini membuat penelitian tidak hanya membandingkan angka, tetapi juga menilai bagaimana alat merespons sampel yang dicurigai memiliki kelainan sel.
Apa hasil utamanya?
Parameter utama menunjukkan korelasi yang kuat
Secara umum, parameter yang paling sering digunakan untuk keputusan klinis menunjukkan korelasi kuat antara HemoScreen dan Sysmex XN.
Parameter tersebut mencakup:
- Hemoglobin
- Jumlah eritrosit
- Jumlah leukosit
- Jumlah trombosit
- Absolute neutrophil count
Nilai koefisien determinasi untuk kelompok parameter utama berada pada rentang sekitar 0,91–0,98. Tidak ditemukan perbedaan rerata yang bermakna untuk hemoglobin, eritrosit, leukosit, trombosit, dan absolute neutrophil count.
Beberapa hasil penting dapat dirangkum sebagai berikut:
| Parameter | R² | Bias HemoScreen terhadap Sysmex XN | Interpretasi |
|---|---|---|---|
| Leukosit | 0,980 | −5,5% | Korelasi sangat kuat |
| Eritrosit | 0,950 | −1,7% | Korelasi kuat |
| Hemoglobin | 0,909 | sekitar 0% | Rerata hampir identik |
| Hematokrit | 0,892 | −4,9% | HemoScreen lebih rendah |
| MCV | Sekitar 0,80–0,89 | −3,6% | HemoScreen lebih rendah |
| Neutrofil absolut | 0,91–0,98 | Relatif kecil | Agreement umumnya baik |
| Neutrofil persentase | — | +9,0% | HemoScreen lebih tinggi |
| Monosit | — | sekitar −50% | HemoScreen lebih rendah |
Temuan tersebut menghasilkan gambaran yang cukup jelas:
HemoScreen memberikan hasil yang relatif sebanding untuk parameter inti CBC, tetapi belum tentu memberikan hasil yang memuaskan untuk seluruh indeks eritrosit dan hitung jenis leukosit
Hemoglobin menunjukkan hasil yang sangat baik
Rerata hemoglobin pada Sysmex XN adalah 13,12 g/dL dan pada HemoScreen juga sekitar 13,12 g/dL. Perbedaan rerata hampir nol dan tidak bermakna secara statistik.
Ini merupakan temuan penting karena hemoglobin menjadi salah satu parameter utama untuk:
- Diagnosis dan penentuan derajat anemia
- Evaluasi perdarahan
- Pertimbangan transfusi eritrosit
- Pemantauan respons terapi
- Penilaian keamanan pemberian kemoterapi tertentu
Meskipun demikian, kesamaan rerata populasi belum menjamin bahwa setiap hasil individual selalu identik, terutama pada konsentrasi sangat rendah atau di sekitar batas keputusan transfusi.
Penelitian ini tidak secara khusus memperkaya jumlah sampel dengan hemoglobin sangat rendah atau menguji kesesuaian klasifikasi pada batas keputusan klinis tertentu. Karena itu, hasil yang baik tidak boleh langsung ditafsirkan bahwa kedua alat selalu dapat saling menggantikan pada semua situasi.
Hematokrit dan MCV cenderung lebih rendah
HemoScreen menghasilkan hematokrit sekitar 4,9–5% lebih rendah dan MCV sekitar 3,6% lebih rendah dibandingkan Sysmex XN. Perbedaan tersebut bermakna secara statistik.
Penulis menjelaskan bahwa perbedaan ini kemungkinan berkaitan dengan perbedaan prinsip analitik. HemoScreen menggunakan digital imaging dan viscoelastic focusing, sedangkan Sysmex XN menggunakan kombinasi impedansi dan fluorescence flow cytometry untuk berbagai parameter.
Secara klinis, bias MCV perlu diperhatikan karena MCV digunakan untuk mengklasifikasikan anemia menjadi:
- Mikrositik
- Normositik
- Makrositik
Bias negatif sebesar beberapa persen mungkin tidak berpengaruh pada nilai yang jauh dari batas klasifikasi. Namun, pada hasil yang berada dekat batas mikrositosis atau makrositosis, perbedaan tersebut dapat membuat satu analyzer mengklasifikasikan pasien secara berbeda dari analyzer lainnya.
Sebagai ilustrasi, pasien dengan MCV sedikit di atas batas mikrositosis pada analyzer sentral mungkin memperoleh nilai di bawah batas pada analyzer POCT.
Hal ini tidak berarti salah satu alat pasti salah. Perbedaan dapat muncul karena kedua alat mengukur atau menghitung volume sel menggunakan prinsip yang berbeda.
Namun, konsekuensi pentingnya yaitu batas interpretasi yang digunakan pada analyzer sentral tidak boleh otomatis dipindahkan ke analyzer POCT tanpa verifikasi.
Persentase neutrofil lebih tinggi, tetapi neutrofil absolut relatif sesuai
HemoScreen menghasilkan persentase neutrofil sekitar 9% lebih tinggi dibandingkan Sysmex XN. Sebaliknya, absolute neutrophil count menunjukkan kesesuaian yang lebih baik.
Perbedaan ini perlu ditafsirkan secara proporsional.
Untuk pemantauan pasien yang menggunakan clozapine atau pasien yang menjalani kemoterapi, parameter yang umumnya lebih penting adalah absolute neutrophil count (ANC), bukan hanya persentase neutrofil.
Karena itu, agreement ANC yang baik lebih bermakna daripada perbedaan kecil pada persentase neutrofil.
Namun, persentase neutrofil tetap digunakan dalam berbagai konteks, termasuk:
- Interpretasi hitung jenis leukosit
- Perhitungan neutrophil-to-lymphocyte ratio
- Evaluasi pola respons inflamasi
- Interpretasi bersama jumlah leukosit total
Perbedaan sistematik pada persentase neutrofil dapat memengaruhi indeks turunan dan interpretasi longitudinal apabila pasien diperiksa bergantian menggunakan analyzer yang berbeda.
Perbedaan monosit merupakan temuan yang paling perlu diwaspadai
HemoScreen menghasilkan jumlah monosit sekitar 50% lebih rendah dibandingkan Sysmex XN. Penulis menilai bahwa perbedaan ini lebih berpotensi relevan secara klinis daripada perbedaan basofil, terutama pada kondisi yang membutuhkan pemantauan monosit secara serial.
Monosit sering kali bukan parameter pertama yang diperhatikan pada CBC rutin. Namun, jumlah monosit memiliki nilai penting pada:
- Monositosis persisten
- Chronic myelomonocytic leukemia
- Hairy cell leukemia
- Gangguan mieloproliferatif atau mielodisplastik tertentu
- Pemantauan pemulihan sumsum tulang
- Beberapa infeksi dan inflamasi kronis
Bias sebesar 50% dapat membuat monositosis terlihat lebih ringan atau bahkan tidak terdeteksi apabila laboratorium menggunakan reference interval dari metode lain.
Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan analyzer POCT harus disesuaikan dengan tujuan klinis.
Alat yang cukup baik untuk memastikan ANC sebelum pemberian obat belum tentu memiliki performa yang sama baiknya untuk mengevaluasi monositosis persisten.
Bagaimana performa flagging-nya?
Sebanyak 40 dari 199 sampel atau sekitar 20% memperoleh flag yang memerlukan review lebih lanjut.
Rinciannya meliputi:
- 32 sampel dengan flag sel abnormal
- 3 sampel dengan flag platelet clumps
- 4 sampel dengan kombinasi sel abnormal dan platelet clumps
- 1 sampel dengan platelet clumps dan sel abnormal yang menyebabkan hasil differential ditekan
Sebanyak 38 sampel kemudian dibuatkan apusan darah tepi.
Dari sampel dengan flag sel abnormal, kelainan sel benar-benar ditemukan pada 14 dari 30 apusan atau sekitar 47%.
Dari delapan sampel dengan flag platelet clumps, agregasi trombosit ditemukan pada tiga sampel atau sekitar 38%.
Pada 37 sampel yang memiliki hitung jenis otomatis dan manual, sebanyak 15 sampel atau 41% menunjukkan perbedaan bermakna pada satu atau lebih populasi leukosit. Perbedaannya umumnya berupa neutrofil otomatis yang lebih tinggi atau limfosit, monosit, dan basofil otomatis yang lebih rendah.
Sekilas, angka tersebut menunjukkan bahwa flag memiliki nilai untuk mengidentifikasi sampel yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Namun, terdapat satu persoalan metodologis penting:
Apusan darah hanya diperiksa pada sampel yang memperoleh flag.
Artinya, penelitian ini dapat menilai berapa banyak flag yang benar-benar disertai kelainan, tetapi tidak dapat memastikan berapa banyak sampel tanpa flag yang sebenarnya memiliki kelainan morfologi.
Dengan desain tersebut, peneliti tidak dapat menghitung secara memadai:
- Sensitivitas flag
- False-negative rate
- Negative predictive value
- Kemampuan alat menyingkirkan kelainan sel pada sampel tanpa flag
Ini merupakan salah satu keterbatasan terpenting dari penelitian.
Untuk menyatakan bahwa sistem flagging aman sebagai skrining, seharusnya sebagian atau seluruh sampel tanpa flag juga diperiksa secara mikroskopis. Tanpa langkah tersebut, kemungkinan blast, limfosit abnormal, granulosit imatur, atau agregasi trombosit yang tidak terdeteksi oleh alat belum dapat dinilai secara lengkap.
Apakah HemoScreen dapat menggantikan Sysmex XN?
Berdasarkan penelitian ini, jawaban yang paling tepat adalah:
HemoScreen berpotensi menggantikan sebagian fungsi CBC sentral pada setting tertentu, tetapi belum dapat dianggap sepenuhnya interchangeable dengan Sysmex XN untuk seluruh parameter dan seluruh kondisi klinis.
Parameter inti seperti hemoglobin, leukosit, eritrosit, trombosit, dan absolute neutrophil count menunjukkan agreement yang cukup baik.
Namun, perhatian khusus diperlukan untuk:
- Hematokrit
- MCV
- MCH dan MCHC
- Persentase neutrofil
- Monosit
- Basofil
- Sampel dengan flag
- Hasil di sekitar medical decision limits
- Pemantauan serial menggunakan alat yang berbeda
Karena itu, penggunaan terbaik HemoScreen mungkin bukan sebagai pengganti total laboratorium sentral, melainkan sebagai alat pemeriksaan cepat yang terintegrasi dengan sistem laboratorium.
Pada setting apa alat seperti ini paling bermanfaat?
1. Infusion center dan unit kemoterapi
Hasil hemoglobin, trombosit, leukosit, dan ANC dapat digunakan untuk menentukan apakah terapi dapat dilanjutkan.
Pasien tidak harus datang satu hari sebelumnya hanya untuk pengambilan darah. Namun, hasil mendekati batas keputusan sebaiknya dikonfirmasi sesuai algoritme lokal.
2. Klinik pemantauan clozapine
Pasien yang menggunakan clozapine memerlukan pemantauan ANC secara berkala. POCT dapat mengurangi beban venipuncture dan kunjungan laboratorium, terutama bila menggunakan darah kapiler.
Studi lain juga telah mengevaluasi beberapa analyzer POCT untuk pemantauan ANC pada pengguna clozapine, tetapi tetap menekankan pentingnya kesesuaian di sekitar batas neutropenia.
3. Instalasi gawat darurat atau unit terpencil
CBC cepat dapat membantu evaluasi awal anemia berat, infeksi, perdarahan, dan trombositopenia ketika laboratorium sentral tidak tersedia sepanjang waktu.
Namun, pemeriksaan morfologi dan konfirmasi tetap diperlukan bila terdapat flag atau ketidaksesuaian klinis.
4. Rumah sakit kecil dan daerah dengan akses laboratorium terbatas
Perangkat portabel dapat memperluas akses pemeriksaan hematologi. Akan tetapi, implementasinya harus disertai sistem quality control, pelatihan, dan jejaring rujukan untuk pemeriksaan lanjutan.
5. Home care atau pelayanan bergerak
Secara teknologi, penggunaan dekat rumah pasien memungkinkan pemantauan tanpa kunjungan berulang ke rumah sakit.
Namun, pelayanan ini memerlukan tata kelola identifikasi pasien, transmisi hasil, keamanan data, penanganan nilai kritis, dan supervisi laboratorium.
Kesimpulan
Penelitian Shean dan Bennett menunjukkan bahwa pemeriksaan darah rutin menggunakan hematology analyzer point-of-care bukan lagi sekadar gagasan.
Teknologi tersebut telah mampu menghasilkan hemoglobin, jumlah leukosit, eritrosit, trombosit, dan absolute neutrophil count dengan agreement yang umumnya baik terhadap analyzer laboratorium sentral.
Namun, beberapa perbedaan tidak boleh diabaikan.
Hematokrit dan MCV cenderung lebih rendah, persentase neutrofil lebih tinggi, dan monosit dapat jauh lebih rendah dibandingkan Sysmex XN. Selain itu, desain pemeriksaan apusan hanya pada sampel dengan flag membuat kemampuan alat mendeteksi kelainan tanpa flag belum dapat dinilai secara utuh.
Karena itu, kesimpulan yang paling adil adalah:
Pemeriksaan POCT darah rutin dapat mendekatkan hasil darah rutin kepada pasien, tetapi belum dapat menjauhkan pemeriksaan tersebut dari tanggung jawab laboratorium.
Tujuan akhirnya bukan sekadar memperoleh hasil lebih cepat.
Tujuannya adalah memperoleh hasil yang cukup cepat, cukup akurat, dan cukup aman untuk menghasilkan keputusan klinis yang lebih baik.
Karena ketika pemeriksaan darah rutin semakin dekat dengan pasien, pengawasan mutu laboratorium justru tidak boleh semakin jauh.
Daftar pustaka
- Shean RC, Bennett ST. Clinical evaluation of a novel point-of-care hematology analyzer for complete blood count with differential. International Journal of Laboratory Hematology. 2026;48(2):353–364. doi:10.1111/ijlh.70032.
- Abbasi U, Chowdhury P, Subramaniam S, et al. A cartridge-based point-of-care device for complete blood count. Scientific Reports. 2019;9:18583. doi:10.1038/s41598-019-54006-3.
- Linko-Parvinen AM, Keränen K, Kurvinen K, Tienhaara A. HemoScreen hematology analyzer compared to Sysmex XN for complete blood count, white blood cell differential, and detection of leukocyte abnormalities. eJHaem. 2022;3:1099–1107. doi:10.1002/jha2.566.
- Kur DK, Thøgersen D, Kjeldsen L, Friis-Hansen L. The HemoScreen hematology point-of-care device is suitable for rapid evaluation of acute leukemia patients. International Journal of Laboratory Hematology. 2021;43(1):52–60. doi:10.1111/ijlh.13330.
- Maynard RD, Funk T, Harrill W, et al. Analytical performance evaluation of three point-of-care CBC analyzers for management of clozapine therapy in ambulatory psychiatry clinics. Journal of Applied Laboratory Medicine. 2023;8(6):1028–1041. doi:10.1093/jalm/jfad050.
- Clinical and Laboratory Standards Institute. EP09: Measurement Procedure Comparison and Bias Estimation Using Patient Samples. 3rd ed. CLSI; 2018.
- Clinical and Laboratory Standards Institute. H26-A2: Validation, Verification, and Quality Assurance of Automated Hematology Analyzers. 2nd ed. CLSI; 2010.
- Clinical and Laboratory Standards Institute. H20: Reference Leukocyte Differential Count and Evaluation of Instrumental Methods. CLSI.
- International Organization for Standardization. ISO 15189:2022 Medical Laboratories—Requirements for Quality and Competence. ISO; 2022.
- US Food and Drug Administration. HemoScreen Hematology Analyzer 510(k) Substantial Equivalence Decision Summary. K180020.
Catatan: Tidak ada kepentingan ataupun sponsor apapun dalam tulisan ini
Tinggalkan Balasan