Halo, MikroSob!
Ketika seseorang dicurigai mengalami tuberkulosis atau TB paru, salah satu pertanyaan yang hampir selalu muncul di saya adalah:
“Dahaknya bisa dikeluarkan?”
Karena kenyataannya, tidak semua pasien dapat menghasilkan dahak yang memadai untuk diperiksa. Sebagian hanya mengalami batuk kering. Sebagian lain sudah berusaha batuk berkali-kali, tetapi yang keluar hanya air liur. Ada pula pasien yang terlalu lemah, lanjut usia, atau memiliki kondisi tertentu sehingga sulit mengeluarkan sekret dari saluran napas bagian bawah.
Padahal, spesimen dahak sangat penting untuk mendeteksi keberadaan Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TB, sekaligus menilai kemungkinan resistansi terhadap obat tertentu.
Kini, muncul alternatif yang terdengar jauh lebih sederhana: mengusap permukaan lidah menggunakan swab steril, kemudian memeriksanya dengan metode molekuler.
Pada 2026, World Health Organization atau WHO untuk pertama kalinya merekomendasikan penggunaan usap lidah sebagai spesimen alternatif untuk pemeriksaan molekuler TB pada remaja dan dewasa yang tidak dapat menghasilkan dahak. Namun, rekomendasi ini memiliki batasan yang perlu dipahami agar tidak menimbulkan anggapan bahwa pemeriksaan dahak sudah tidak diperlukan lagi (WHO, 2026).
Mengapa pemeriksaan TB biasanya menggunakan dahak?
TB paru disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang terutama berada di saluran pernapasan dan jaringan paru. Karena itu, dahak yang berasal dari saluran napas bawah merupakan spesimen yang paling representatif untuk menemukan bakteri tersebut.
Dahak tidak sama dengan air liur. Dahak merupakan sekret yang dikeluarkan dari saluran napas bagian bawah setelah pasien menarik napas dalam dan batuk kuat. Sementara itu, air liur terutama berasal dari kelenjar ludah dan rongga mulut.
Spesimen dahak dapat diperiksa menggunakan pewarnaan basil tahan asam (BTA), kultur mikobakteri, ataupun tes amplifikasi asam nukleat seperti Xpert MTB/RIF Ultra. Pemeriksaan molekuler saat ini memiliki peran penting karena dapat mendeteksi materi genetik bakteri secara lebih cepat dibandingkan kultur. Beberapa sistem juga dapat memberikan informasi mengenai kemungkinan resistansi rifampisin yaitu obat antibiotik kuat yang dipakai untuk mengobati penyakit tuberkulosis, kusta (lepra), dan infeksi bakteri serius lainnya.
WHO tetap menyatakan bahwa spesimen pernapasan, terutama dahak, merupakan spesimen pilihan karena akurasi diagnostiknya lebih baik dibandingkan usap lidah. (WHO, 2026)
Masalahnya, tidak semua pasien mampu mengeluarkan dahak.
Pada keadaan tertentu, tenaga kesehatan dapat melakukan induksi sputum, aspirasi trakea, atau bronkoskopi untuk memperoleh spesimen pernapasan. Akan tetapi, prosedur tersebut memerlukan fasilitas, tenaga terlatih, biaya, serta pengendalian infeksi yang lebih kompleks. Tidak semua fasilitas kesehatan atau lab mampu melakukannya.
Di sinilah pemeriksaan usap lidah berpotensi mengisi kesenjangan diagnostik.
Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan usap lidah?
Usap lidah atau tongue swab merupakan metode pengambilan spesimen dengan menggosokkan swab steril pada permukaan atas atau dorsum lidah. Material yang menempel pada swab kemudian diproses dan diperiksa menggunakan tes molekuler yang kompatibel.
Pemeriksaan ini tidak mencari luka, jamur, atau bakteri penyebab infeksi mulut. Tujuannya adalah mencari materi genetik Mycobacterium tuberculosis yang dapat ditemukan pada material di permukaan lidah pasien dengan TB paru.
Setelah spesimen diambil, swab dimasukkan ke dalam larutan pemrosesan. Materi genetik bakteri kemudian dilepaskan dan diperbanyak melalui proses amplifikasi asam nukleat. Apabila target genetik M. tuberculosis ditemukan, alat akan memberikan hasil positif.
Dengan kata lain, swab hanya berfungsi sebagai alat pengambil spesimen. Penentuan ada atau tidaknya TB tetap dilakukan menggunakan teknologi molekuler, bukan dengan melihat swab secara langsung.
Bagaimana sampelnya diambil?
Secara umum, petugas akan meminta pasien membuka mulut dan menjulurkan lidah. Swab steril kemudian digosokkan pada permukaan atas lidah, terutama bagian tengah hingga belakang, sesuai prosedur yang ditetapkan oleh alat dan program pemeriksaan.
WHO menyatakan bahwa durasi pengusapan penting karena sensitivitas pemeriksaan dapat menurun apabila pengusapan dilakukan kurang dari 30 detik. Spesimen dapat diambil oleh tenaga terlatih atau dikumpulkan sendiri oleh pasien dengan panduan petugas, tergantung sistem pemeriksaan, prosedur operasional, dan kebijakan program yang berlaku (WHO, 2026)
Meskipun terlihat sederhana, pengambilan sampel tidak boleh dilakukan sembarangan. Jenis swab, lokasi pengusapan, durasi pengusapan, cara penyimpanan, larutan pemrosesan, kebersihan area kerja, dan jenis alat molekuler dapat memengaruhi hasil.
Petugas juga harus menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. Pengambilan usap lidah menyebabkan petugas berada sangat dekat dengan wajah pasien yang dicurigai menderita TB. Karena TB menular melalui udara, prosedur sebaiknya dilakukan di tempat dengan ventilasi yang baik disertai penerapan pengendalian infeksi (WHO, 2026)
Apa yang terjadi di 2026?
Pada Maret 2026, WHO mengeluarkan rekomendasi baru mengenai pemeriksaan molekuler TB dekat pasien dan penggunaan usap lidah sebagai spesimen alternatif.
Rekomendasinya cukup spesifik: pada remaja dan dewasa dengan tanda atau gejala TB paru, atau yang mendapatkan hasil skrining positif, pemeriksaan molekuler pada spesimen pernapasan tetap menjadi pilihan utama. Namun, apabila spesimen pernapasan tidak dapat diperoleh, tes amplifikasi asam nukleat otomatis dengan kompleksitas rendah dapat digunakan pada usap lidah sebagai pemeriksaan awal. (WHO, 2026)
Rekomendasi penggunaan usap lidah tersebut bersifat kondisional dengan kepastian bukti yang masih rendah. Artinya, teknologi ini dinilai dapat memberikan manfaat pada situasi tertentu, tetapi penerapannya tetap harus mempertimbangkan keterbatasan akurasi, sumber daya, kesiapan laboratorium, populasi pasien, dan algoritme nasional.
Pada Mei 2026, WHO bersama Stop TB Partnership juga menerbitkan perangkat implementasi pemeriksaan TB berbasis swab dan pemeriksaan dekat pasien. Perangkat tersebut mencakup prosedur operasional, materi pelatihan, penilaian kompetensi, protokol verifikasi metode, serta instrumen pemantauan mutu (WHO, 2026)
Jadi, usap lidah bukan sekadar inovasi penelitian. Metode ini mulai memasuki tahapan implementasi program, meskipun penggunaannya harus tetap terkendali dan dijamin mutunya.

Seberapa akurat pemeriksaan usap lidah?
Ini merupakan pertanyaan terpenting.
Berdasarkan penilaian WHO terhadap 11 penelitian dari 10 negara yang melibatkan 6.124 peserta, pemeriksaan molekuler berbasis usap lidah memiliki sensitivitas gabungan sekitar 71,4% dan spesifisitas sekitar 98,8% (WHO, 2026)
Sensitivitas 71,4% berarti bahwa dari 100 orang yang benar-benar menderita TB paru, secara teoritis sekitar 71 orang dapat terdeteksi, sedangkan sisanya masih berpotensi memberikan hasil negatif palsu.
Sebaliknya, spesifisitas 98,8% menunjukkan bahwa hasil positif pada orang yang sebenarnya tidak menderita TB relatif jarang. Meskipun demikian, nilai tersebut merupakan rangkuman dari berbagai penelitian. Kinerja aktual dapat berbeda tergantung jenis alat, metode pengambilan spesimen, beban bakteri, karakteristik pasien, serta standar pembanding yang digunakan.
Sebuah penelitian prospektif multinegara yang melibatkan 1.844 peserta menemukan bahwa pemeriksaan Xpert MTB/RIF Ultra pada usap lidah memiliki sensitivitas 65,6% dan spesifisitas 98,5% jika dibandingkan dengan kultur dahak. Penelitian tersebut dilakukan di delapan negara, termasuk India, Filipina, Vietnam, Afrika Selatan, Nigeria, Zambia, Uganda, dan Peru (de Vos et al., 2026)
Penelitian multinegara lainnya yang menggunakan protokol pemrosesan yang telah direvisi melaporkan sensitivitas 66,0% dan spesifisitas 99,6%. Peneliti menyimpulkan bahwa usap lidah dapat menjadi spesimen alternatif ketika dahak tidak tersedia, tetapi sensitivitasnya masih berada pada tingkat sedang (Ajide et al., 2026)
Hasil yang lebih tinggi ditemukan dalam penelitian di Afrika Selatan. Pemeriksaan usap lidah yang dikumpulkan sendiri oleh peserta menghasilkan sensitivitas 78,1% dan spesifisitas 100% dibandingkan kultur. Seluruh responden dalam survei penelitian tersebut menyatakan dapat menerima prosedur pengambilan usap lidah dengan ketidaknyamanan minimal. Namun, performanya tetap lebih rendah pada pasien dengan jumlah bakteri sedikit dan pada sebagian pasien yang hidup dengan HIV (David et al., 2025)
Variasi tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan usap lidah sangat menjanjikan, tetapi belum dapat dianggap setara dengan pemeriksaan molekuler menggunakan dahak.
Mengapa hasilnya bisa negatif meskipun pasien menderita TB?
Jumlah bakteri atau materi genetik M. tuberculosis pada permukaan lidah biasanya lebih sedikit dibandingkan jumlah yang terdapat dalam dahak. Akibatnya, pemeriksaan usap lidah lebih berisiko tidak mendeteksi TB pada pasien dengan beban bakteri rendah.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hasil usap lidah cenderung lebih mudah positif pada pasien yang memiliki jumlah bakteri lebih tinggi dalam dahaknya. Sebaliknya, pasien dengan hasil Xpert dahak kategori trace atau very low lebih sering tidak terdeteksi melalui usap lidah (Andama et al., 2022; Wood et al., 2024)
Karena itu, hasil usap lidah negatif tidak otomatis menyingkirkan TB.
Apabila pasien memiliki gejala, gambaran radiologi, faktor risiko, atau riwayat kontak yang kuat mengarah pada TB, evaluasi harus dilanjutkan. Pemeriksaan lanjutan dapat berupa pengulangan pemeriksaan, upaya memperoleh dahak, pemeriksaan radiologi, pemeriksaan spesimen lain, atau penilaian klinis sesuai algoritme pelayanan TB.
Siapa yang paling mungkin mendapat manfaat?
Pemeriksaan ini terutama ditujukan untuk remaja dan dewasa yang dicurigai mengalami TB paru tetapi tidak mampu menghasilkan dahak.
Contohnya meliputi:
- pasien dengan batuk kering
- pasien yang terlalu lemah untuk mengeluarkan dahak
- pasien lanjut usia
- pasien dengan produksi sputum sangat sedikit
- pasien yang tidak dapat menjalani induksi sputum
- masyarakat di daerah yang aksesnya terhadap laboratorium molekuler masih terbatas
Pada pasien yang masih dapat menghasilkan dahak dengan kualitas memadai, pemeriksaan dahak tetap lebih dianjurkan.
WHO saat ini belum merekomendasikan usap lidah untuk diagnosis TB pada anak karena bukti yang tersedia masih terbatas dan sensitivitasnya dilaporkan rendah. Diagnosis TB pada anak tetap memerlukan pendekatan khusus dengan mempertimbangkan gejala, riwayat kontak, radiologi, serta pemeriksaan spesimen yang sesuai (WHO, 2026).
Pada orang dengan HIV, usap lidah dapat dipertimbangkan apabila dahak tidak dapat diperoleh. Namun, sensitivitas pada kelompok tersebut cenderung lebih rendah. Bila tersedia, WHO menganjurkan strategi pemeriksaan bersamaan, termasuk pemeriksaan urine Lateral Flow Lipoarabinomannan Assay (LF-LAM) pada kelompok pasien HIV yang memenuhi kriteria (WHO, 2026)
Apakah usap lidah dapat mendeteksi TB resisten obat?
Jawabannya bergantung pada alat yang digunakan.
Beberapa pemeriksaan molekuler otomatis, seperti Xpert MTB/RIF Ultra, dirancang untuk mendeteksi kompleks M. tuberculosis sekaligus perubahan genetik yang berkaitan dengan resistansi rifampisin. WHO memperluas penggunaan Xpert MTB/RIF Ultra pada usap lidah untuk deteksi TB dan resistansi rifampisin, tetapi dasar rekomendasi resistansi tersebut sebagian merupakan ekstrapolasi dari data pemeriksaan lain karena bukti langsung pada usap lidah masih terbatas (WHO, 2026)
Sementara itu, tes molekuler dekat pasien tertentu hanya mendeteksi keberadaan TB dan belum memberikan informasi resistansi obat. Pasien dengan hasil positif dari alat tersebut tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk menilai resistansi rifampisin dan obat antituberkulosis lainnya (WHO, 2026)
Oleh karena itu, hasil positif bukan akhir proses diagnosis. Pasien tetap harus dihubungkan dengan layanan TB, menjalani penilaian resistansi sesuai algoritme, dan segera memulai terapi yang tepat.
Apa kelebihan pemeriksaan usap lidah?
Kelebihan utamanya adalah kemudahan pengambilan spesimen. Pasien tidak perlu dipaksa batuk berulang kali, tidak perlu menyediakan dahak dalam jumlah tertentu, dan pada banyak kasus tidak memerlukan prosedur invasif.
Usap lidah juga berpotensi:
- meningkatkan akses diagnosis bagi orang yang tidak dapat menghasilkan dahak
- mempermudah pengambilan spesimen di pelayanan kesehatan primer
- mendukung pemeriksaan di daerah terpencil
- mengurangi kebutuhan prosedur induksi sputum
- mempercepat hubungan antara pemeriksaan, diagnosis, dan pengobatan
- memungkinkan pengambilan spesimen dengan panduan tenaga kesehatan
- memberikan alternatif yang lebih nyaman dan dapat diterima pasien
Beberapa perangkat molekuler dekat pasien yang direkomendasikan WHO dapat menggunakan baterai dan memberikan hasil dalam waktu kurang dari satu jam. Teknologi tersebut dirancang untuk memperluas pemeriksaan molekuler hingga fasilitas kesehatan primer dan komunitas yang sebelumnya hanya mengandalkan mikroskopi atau pengiriman spesimen ke laboratorium rujukan (WHO, 2026)
Apa keterbatasannya?
Kemudahan pengambilan sampel tidak berarti pemeriksaannya sempurna.
Keterbatasan terpenting adalah sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan pemeriksaan molekuler pada dahak. Dengan sensitivitas sekitar 65–75% pada banyak penelitian, masih terdapat pasien TB yang dapat terlewat apabila keputusan hanya didasarkan pada usap lidah.
Selain itu, pemeriksaan ini menghadapi beberapa tantangan:
- teknik pengambilan harus distandardisasi
- durasi pengusapan memengaruhi hasil
- jenis swab dan metode pemrosesan dapat memberikan kinerja berbeda
- kontaminasi silang dapat menyebabkan positif palsu
- tidak semua alat molekuler telah divalidasi untuk usap lidah
- pemeriksaan tetap membutuhkan pengendalian mutu
- hasil negatif harus diinterpretasikan bersama kondisi klinis
- data pada anak, pasien sakit berat, dan beberapa populasi khusus masih terbatas
Karena tes molekuler mampu mendeteksi DNA dalam jumlah kecil, area kerja, sarung tangan, instrumen, dan permukaan pemeriksaan harus dibersihkan dengan benar. Kontaminasi dari spesimen positif ke spesimen berikutnya dapat menghasilkan positif palsu (WHO, 2026)
Mengapa inovasi ini penting bagi Indonesia?
Indonesia masih menghadapi beban TB yang sangat besar. Global Tuberculosis Report 2025 memperkirakan Indonesia menyumbang sekitar 10% dari seluruh kasus TB dunia pada 2024, menempatkannya sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak kedua setelah India. Indonesia juga menjadi negara dengan kesenjangan terbesar antara estimasi kasus TB dan jumlah kasus yang berhasil didiagnosis serta dilaporkan pada 2024 (WHO, 2025)
WHO Indonesia menyatakan bahwa beban TB nasional masih tinggi dan relatif stagnan. Pada 2023, insidennya diperkirakan mencapai 387 kasus per 100.000 penduduk atau sekitar 1,09 juta kasus. Tantangan pentingnya bukan hanya memberikan pengobatan, melainkan menemukan pasien lebih awal, memastikan diagnosis, melaporkan kasus, serta menjaga pasien menyelesaikan terapi (WHO, 2026)
Dalam situasi tersebut, usap lidah berpotensi membantu menjangkau pasien yang selama ini tidak memperoleh konfirmasi bakteriologis karena tidak mampu menghasilkan dahak. Teknologi ini juga dapat mendukung desentralisasi pemeriksaan molekuler ke puskesmas, klinik primer, pelayanan keliling, dan daerah dengan akses laboratorium yang terbatas.
Namun, penerapannya tidak cukup hanya dengan membeli alat dan swab. Diperlukan verifikasi metode, prosedur operasional baku, pelatihan petugas, pemantapan mutu internal, evaluasi mutu eksternal, sistem rujukan, ketersediaan pemeriksaan resistansi, pencatatan hasil, serta hubungan yang jelas dengan layanan pengobatan TB.
Inovasi diagnostik hanya akan bermanfaat apabila hasilnya diikuti tindakan klinis yang cepat.
Jadi, apakah TB sekarang dapat didiagnosis tanpa dahak?
Bisa, pada kondisi tertentu.
Usap lidah dapat digunakan sebagai spesimen alternatif untuk pemeriksaan molekuler pada remaja dan dewasa yang dicurigai menderita TB paru tetapi tidak dapat menghasilkan dahak.
Namun, ada tiga hal yang harus selalu diingat:
Pertama, dahak tetap menjadi spesimen pilihan. Pemeriksaan molekuler pada dahak memiliki sensitivitas lebih tinggi dan lebih mampu mendeteksi pasien dengan jumlah bakteri rendah.
Kedua, hasil usap lidah negatif belum menyingkirkan TB. Apabila kecurigaan klinis tetap kuat, evaluasi harus dilanjutkan.
Ketiga, usap lidah harus diperiksa menggunakan metode molekuler yang telah divalidasi. Mengusap lidah saja tentu tidak dapat mendiagnosis TB.
Penutup
Usap lidah membuka peluang baru dalam diagnosis TB. Prosedurnya mudah, tidak invasif, relatif nyaman, dan dapat membantu orang yang sebelumnya sulit mendapatkan pemeriksaan karena tidak mampu mengeluarkan dahak.
Namun, teknologi ini bukan jalan pintas yang menghapus seluruh pemeriksaan lain.
Usap lidah sebaiknya ditempatkan sebagai jembatan: jembatan antara pasien yang sulit memberikan spesimen dan kesempatan memperoleh diagnosis bakteriologis, antara fasilitas kesehatan terbatas dan teknologi molekuler, serta antara kecurigaan klinis dan pengobatan yang lebih cepat.
Karena dalam pengendalian TB, pemeriksaan yang mudah memang penting. Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa pasien yang sakit benar-benar ditemukan, didiagnosis dengan benar, mendapatkan pengobatan, dan tidak hilang dari pemantauan.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Low-complexity automated nucleic acid amplification tests on tongue swabs. WHO Global Programme on Tuberculosis and Lung Health; 2026.
- World Health Organization. Frequently asked questions: near point-of-care tests, tongue swabs, and sputum pooling for tuberculosis. WHO Global Programme on Tuberculosis and Lung Health; 2026.
- World Health Organization, Stop TB Partnership. TB near point-of-care and swab-based testing toolkit. Geneva: WHO; 2026.
- de Vos M, Le H, Marcelo D, et al. Multicountry assessment of tongue swabs for tuberculosis using a common protocol for Xpert MTB/RIF Ultra testing: a prospective diagnostic accuracy study. Lancet Microbe. 2026;7(6):101330. doi:10.1016/j.lanmic.2025.101330.
- Ajide B, Moe CA, Barrameda J, et al. Tongue swab Xpert MTB/RIF Ultra testing for tuberculosis using a revised consensus protocol: a multicountry diagnostic accuracy study. International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2026;30(5):211–216. doi:10.5588/ijtld.25.0520.
- David A, Singh L, Peloakgosi-Shikwambani K, et al. Diagnostic accuracy of self-collected tongue swabs for Mycobacterium tuberculosis complex detection in individuals being assessed for tuberculosis in South Africa using the Xpert MTB/RIF Ultra assay. Clinical Microbiology and Infection. 2025;31(6):1040–1045. doi:10.1016/j.cmi.2025.01.029.
- Andama A, Whitman GR, Crowder R, et al. Accuracy of tongue swab testing using Xpert MTB/RIF Ultra for tuberculosis diagnosis. Journal of Clinical Microbiology. 2022;60(7):e00421-22. doi:10.1128/jcm.00421-22.
- Wood RC, Luabeya AK, Dragovich RB, et al. Diagnostic accuracy of tongue swab testing on two automated tuberculosis diagnostic platforms, Cepheid Xpert MTB/RIF Ultra and Molbio Truenat MTB Ultima. Journal of Clinical Microbiology. 2024;62:e00019-24. doi:10.1128/jcm.00019-24.
- World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2025. Geneva: World Health Organization; 2025. ISBN: 978-92-4-011692-4.
- World Health Organization Indonesia. Indonesia memetakan fase selanjutnya respons TB melalui tinjauan program nasional. Jakarta: WHO Indonesia; 2026.
Tinggalkan Balasan