Trombosit Rendah Palsu: Si Kecil yang Bisa Bikin Salah Diagnosis

Palguno Avatar

Halo, MikroSob.
Sebagai dokter patologi klinik, saya sering bertemu dengan satu angka kecil yang bisa membuat suasana klinis dan laboratorium mendadak serius: jumlah trombosit

Pada hasil darah lengkap, trombosit biasanya tampil sebagai angka yang terlihat sederhana. Misalnya 250.000/µL, 150.000/µL, atau tiba-tiba hanya 40.000/µL. Nah, ketika angka trombosit tampak rendah, pikiran kita bisa langsung menuju berbagai kemungkinan: demam berdarah, gangguan sumsum tulang, efek obat, infeksi berat, penyakit autoimun, atau risiko perdarahan.

Gambar 1. Trombositopenia

Namun, ada satu kondisi yang tidak boleh dilupakan: pseudotrombositopenia.

Pseudotrombositopenia adalah suatu keadaan ketika jumlah trombosit pada hasil laboratorium tampak rendah, padahal jumlah trombosit sebenarnya di dalam tubuh pasien tidak serendah itu. Dengan kata lain, ini adalah trombosit rendah palsu. Kondisi ini termasuk artefak laboratorium, yaitu hasil yang muncul akibat proses pada sampel, bukan murni karena penyakit pasien. Dalam banyak kasus, penyebabnya adalah trombosit yang saling menggumpal di dalam tabung darah, terutama pada sampel dengan antikoagulan EDTA (Lardinois et al., 2021).

Gambar 2. Tabung EDTA dengan gumpalan trombosit

Trombosit sendiri adalah keping darah kecil yang berperan penting dalam proses pembekuan darah. Ketika terjadi luka, trombosit membantu membentuk sumbatan awal agar perdarahan berhenti. Karena fungsinya penting, angka trombosit yang rendah sering membuat dokter lebih waspada terhadap kemungkinan perdarahan atau penyakit tertentu (Fountain & Lappin, 2023).

Masalahnya, pada pseudotrombositopenia, trombosit bukan benar-benar hilang. Mereka hanya berkumpul ramai-ramai sehingga alat hematologi otomatis tidak menghitungnya sebagai trombosit satu per satu. Ibarat absensi mahasiswa, seharusnya ada 100 orang, tetapi karena datang bergerombol dan hanya dihitung sebagai beberapa kelompok, laporan akhirnya tampak seolah-olah jumlahnya sedikit. Inilah contoh drama di laboratorium..

Gambar 3. Gumpalan trombosit

Dalam praktik sehari-hari, pseudotrombositopenia paling sering dikaitkan dengan tabung EDTA, yaitu tabung tutup ungu yang lazim digunakan untuk pemeriksaan darah lengkap. Pada sebagian orang, EDTA dapat menyebabkan perubahan pada permukaan trombosit sehingga antibodi tertentu memicu trombosit saling melekat. Proses ini terjadi di luar tubuh, setelah darah masuk ke tabung, bukan karena trombosit menggumpal di pembuluh darah pasien (Lardinois et al., 2021)..

Mengapa hal ini penting? Karena pseudotrombositopenia bisa menyebabkan salah diagnosis.

Bayangkan seorang pasien datang dengan demam. Hasil darah lengkap menunjukkan trombosit rendah. Bila angka itu langsung dipercaya tanpa melihat konteks, pasien bisa langsung dicurigai mengalami dengue atau gangguan hematologi tertentu. Pada kondisi lain, tindakan medis bisa ditunda karena trombosit dianggap terlalu rendah. Bahkan pasien dapat menjalani pemeriksaan tambahan, rujukan, atau terapi yang sebenarnya tidak diperlukan. Literatur juga menekankan bahwa pseudotrombosito-penia dapat menyebabkan diagnostic error, overtreatment, dan tindakan medis yang tidak perlu bila tidak dikenali (Lardinois et al., 2021)..

Di sinilah saya selalu menekankan: hasil laboratorium tidak boleh dibaca sendirian.

Angka trombosit harus dibaca bersama kondisi klinis pasien. Apakah pasien mengalami perdarahan? Apakah ada petekie, mimisan, gusi berdarah, atau memar luas? Apakah hasil sebelumnya normal lalu tiba-tiba turun drastis tanpa penjelasan? Apakah analyzer memberikan flag seperti platelet clumps? Apakah ada ketidaksesuaian antara angka laboratorium dan keadaan pasien?

Bila ada kecurigaan, salah satu langkah sederhana tetapi sangat bermakna adalah melihat apusan darah tepi. Pada apusan darah tepi, sampel darah dibuat tipis di kaca objek, diwarnai, lalu diperiksa dengan mikroskop. Dari sana kita dapat melihat apakah trombosit tersebar sendiri-sendiri atau justru menggumpal. Pemeriksaan apusan darah tepi menjadi bagian penting untuk mengenali platelet clumping dan membantu membedakan trombositopenia sejati dari pseudotrombositopenia (Hurmeydan, 2021).

Gambar 4. Alur pseudotrombositopenia

Bagi saya, ini adalah salah satu contoh menarik bahwa teknologi laboratorium secanggih apa pun tetap membutuhkan validasi manusia. Hematology analyzer dapat bekerja cepat dan presisi, tetapi mikroskop sering kali membantu menjawab pertanyaan yang tidak bisa diselesaikan hanya oleh angka.

Analyzer memberi data
Mikroskop memberi bukti
Dokter menghubungkan keduanya dengan kondisi pasien.

Kalau pada apusan darah terlihat banyak gumpalan trombosit, hasil trombosit rendah perlu dicurigai sebagai rendah palsu. Pemeriksaan dapat diulang dengan sampel baru, memperhatikan kualitas pengambilan darah, waktu pemeriksaan, serta bila perlu menggunakan tabung antikoagulan lain seperti sitrat. Namun, interpretasinya tetap harus hati-hati karena setiap metode memiliki keterbatasan dan koreksi tersendiri.

Untuk pasien, pesan saya sederhana: bila hasil trombosit rendah, jangan langsung panik. Trombosit rendah memang bisa menandakan penyakit serius, tetapi tidak semua angka rendah berarti kondisi tubuh benar-benar berbahaya. Tanyakan kepada dokter apakah hasil tersebut sesuai dengan gejala, apakah perlu pemeriksaan ulang, dan apakah apusan darah tepi sudah dievaluasi.

Untuk tenaga kesehatan, pseudotrombositopenia adalah pengingat bahwa satu angka kecil bisa membawa konsekuensi besar. Jangan terburu-buru menyimpulkan trombositopenia sejati bila gambaran klinis tidak mendukung. Perhatikan flag analyzer, lakukan delta check dengan hasil sebelumnya, dan jangan lupakan apusan darah tepi.

Pada akhirnya, pseudotrombositopenia mengajarkan satu hal penting: di laboratorium, hasil bukan sekadar angka. hasil adalah cerita. Kadang ceritanya lurus, kadang perlu dibaca ulang, dan kadang perlu dibuktikan dengan mikroskop.

Jadi, ketika melihat trombosit rendah, saya tidak langsung bertanya, “Penyakit apa ini?”
Saya juga bertanya, “Apakah angka-nya benar?”

Karena trombosit memang kecil.
Tetapi bisa membuat diagnosis salah besar.

Daftar Pustaka:

  • Baccini V. et al. 2020. Platelet Counting: Ugly Traps and Good Advice. Journal of Clinical Medicine.
  • Cattaneo M. 2025. Pseudothrombocytopenia and other conditions associated with spuriously low platelet counts. Haematologica.
  • Fountain J.H, Lappin S.L. 2023. Physiology, Platelet. StatPearls
  • Hurmeydan O, Madenci O.C, Yildiz Z, Gulturk E, Orcun A. 2021. Management of ethylenediaminetetraacetic acid and citrate-dependent pseudothrombocytopenia in the laboratory. Int J Med Biochem
  • Lardinois B. et al. 2021. Pseudothrombocytopenia—A Review on Causes, Occurrence and Clinical Implications. Journal of Clinical Medicine.


Tinggalkan komentar