Telur Bikin Bisul? Cerita Kepala BGN, Mitos Lama, dan Fakta Medis yang Perlu Diluruskan

Avatar Palguno

Halo, MikroSob!

Ada satu kalimat yang mungkin terdengar sangat akrab bagi sebagian besar orang Indonesia

“Jangan kebanyakan makan telur. Nanti bisulan.”

Kalimat itu mungkin pernah kita dengar dari ibu, nenek, tetangga, bahkan mungkin pernah kita ucapkan sendiri kepada anak-anak

Mitos ini ternyata begitu kuat sampai bertahan lintas generasi

Menariknya, pembicaraan tentang telur dan bisul kembali ramai setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menceritakan pengalaman masa kecilnya setelah resmi dilantik pada 22 Juli 2026. Secara formal, jabatan beliau adalah Kepala BGN, lembaga yang menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Sudaryono bercerita bahwa ia dibesarkan di desa di Grobogan. Ibunya memelihara ayam dan telur menjadi salah satu makanan yang sering ia konsumsi karena ikan relatif sulit diperoleh

Ia kemudian mengatakan:

“Saya sendiri anak dari desa. Ibu saya memelihara ayam di pojok rumah, dan saya selalu makan itu sampai, maaf, sampai bisulan di mana-mana.”

Cerita tersebut muncul ketika Sudaryono menjelaskan pentingnya asupan bergizi dan peran telur sebagai sumber pangan masyarakat (Basoni, 2026)

Cerita masa kecil tentu sah-sah saja…

Masalahnya muncul ketika dua kejadian yang berlangsung berdekatan otomatis dianggap sebagai hubungan sebab-akibat:

sering makan telur → kemudian bisulan → berarti telur menyebabkan bisul

Dalam ilmu kedokteran, kesimpulannya tidak sesederhana itu


Jadi, benarkah telur menyebabkan bisul?

Jawaban pendeknya:

Tidak. Telur tidak terbukti menyebabkan bisul

Bisul atau furuncle bukanlah penyakit akibat seseorang terlalu banyak makan telur

Bisul pada dasarnya merupakan infeksi pada folikel rambut, biasanya membentuk benjolan merah, nyeri, dan dapat berisi nanah. Mikroorganisme yang paling sering terlibat adalah bakteri Staphylococcus aureus (Ibler and Kromann, 2014)

Artinya, ada perbedaan penting…

Telur adalah makanan

Bisul adalah infeksi

Mekanismenya berbeda

Kajian mengenai furunkulosis juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan bisul berulang antara lain kolonisasi Staphylococcus aureus, kontak dengan anggota keluarga yang mengalami infeksi serupa, penyakit kulit tertentu, diabetes, obesitas, anemia, riwayat rawat inap, hingga masalah kebersihan personal (El-Gilany and Fathy, 2009; Demos, McLeod and Nouri, 2012; Ibler and Kromann, 2014)

Perhatikan daftar tersebut

“Kebanyakan makan telur” tidak muncul sebagai penyebab utama bisul


Tetapi saya selalu bisulan setelah makan telur…

Nah, bagian ini yang sering membuat mitos semakin sulit dibantah

Misalnya seseorang berkata:

“Tapi saya pernah makan telur tiga butir. Besoknya muncul bisul.”

Pengalaman tersebut nyata. Bisulnya juga nyata

Tetapi belum tentu telur adalah penyebabnya

Bayangkan seseorang makan sate pada malam hari, lalu keesokan paginya mengalami pilek

Apakah sate menyebabkan pilek?

Belum tentu

Dua kejadian yang muncul berurutan tidak otomatis memiliki hubungan sebab-akibat

Dalam kasus bisul, proses infeksi bakteri bisa saja sudah mulai terjadi sebelumnya. Baru kebetulan benjolannya terlihat setelah seseorang mengonsumsi telur

Otak manusia memang sangat senang mencari pola

Makan telur, lalu bisulan

Makan telur lagi, kebetulan bisulan lagi

Akhirnya terciptalah kesimpulan:

“Berarti telur biang keroknya.”

Lalu cerita tersebut diwariskan bertahun-tahun


Bagaimana kalau sebenarnya alergi telur?

Ini pertanyaan yang lebih masuk akal

Sebagian orang memang dapat mengalami alergi telur. Pada kondisi tersebut, sistem imun bereaksi terhadap protein tertentu dalam telur

Gejalanya dapat berupa gatal, urtikaria atau biduran, ruam, pembengkakan, keluhan saluran cerna, hingga gangguan pernapasan. Pada reaksi berat bahkan dapat terjadi anafilaksis (American College of Allergy, Asthma & Immunology, 2019)

Tetapi sekali lagi:

reaksi alergi kulit bukanlah bisul

Bisul merupakan infeksi folikel rambut yang menghasilkan peradangan dan dapat membentuk nanah

Sementara alergi merupakan reaksi sistem imun

Memang, bagi orang awam, semua benjolan merah di kulit bisa disebut “bisul”. Padahal dalam dunia medis, penyebabnya bisa sangat berbeda

Inilah salah satu kemungkinan mengapa mitos telur dan bisul bertahan begitu lama

Orang makan telur, muncul bentol atau ruam, kemudian disebut “bisulan”

Padahal mungkin sebenarnya itu reaksi alergi


Ironisnya, telur justru makanan yang bergizi

Ini bagian yang menarik…

Telur yang selama bertahun-tahun dituduh menyebabkan bisul justru merupakan makanan dengan kandungan gizi yang cukup padat

Telur menyediakan protein berkualitas tinggi serta berbagai mikronutrien, termasuk vitamin B12, vitamin D, folat, selenium, iodine, dan kolin (Myers and Ruxton, 2023)

Kolin sendiri dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi, termasuk pembentukan membran sel serta fungsi sistem saraf. Satu telur rebus berukuran besar mengandung sekitar 147 mg kolin menurut data National Institutes of Health (NIH Office of Dietary Supplements, 2022)

Jadi akan sedikit ironis apabila seseorang yang sebenarnya tidak alergi telur justru menghindari telur bertahun-tahun karena takut bisulan

Terlebih bagi keluarga yang membutuhkan sumber protein hewani relatif praktis dan terjangkau

Dalam konteks program seperti Makan Bergizi Gratis, telur memang masuk akal menjadi salah satu pilihan sumber protein

Tentu bukan berarti semua orang harus makan telur dalam jumlah sebanyak-banyaknya

Prinsip gizi tetap sama: variasi, kecukupan, dan keseimbangan lebih penting daripada mengagungkan satu jenis makanan


Kalau sering bisulan, apa yang seharusnya dicari?

Daripada langsung mencurigai isi piring, ada baiknya melihat penyebab yang lebih masuk akal secara medis

Kalau bisul muncul berulang-ulang, dokter justru perlu mempertimbangkan berbagai faktor seperti kolonisasi Staphylococcus aureus, kontak erat dengan penderita lain, diabetes, penyakit kulit yang mengganggu skin barrier, obesitas, atau kondisi lain yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi (El-Gilany and Fathy, 2009; Ibler and Kromann, 2014)

Apalagi bila bisul:

  • sering kambuh
  • muncul dalam jumlah banyak
  • ukurannya besar
  • disertai demam
  • sangat nyeri
  • atau terjadi pada orang dengan diabetes maupun gangguan sistem imun

Dalam kondisi seperti itu, persoalannya jauh lebih penting daripada sekadar mempertanyakan:

“Kemarin makan telur berapa?”


Cerita pribadi tetap penting, tetapi ilmu bekerja dengan cara berbeda

Kembali ke cerita Kepala BGN tadi

Tidak ada yang salah dengan menceritakan pengalaman masa kecil. Bahkan cerita tersebut cukup menarik karena menunjukkan bagaimana telur menjadi sumber protein yang mudah tersedia bagi sebuah keluarga di desa

Namun pengalaman pribadi tidak selalu dapat digunakan untuk menjelaskan mekanisme penyakit

Dalam ilmu kesehatan ada perbedaan besar antara:

“Saya makan telur kemudian saya bisulan”

dan

“Telur menyebabkan bisul.”

Kalimat pertama adalah pengalaman

Kalimat kedua adalah klaim sebab-akibat yang membutuhkan bukti ilmiah

Dan sejauh pengetahuan medis yang tersedia saat ini, literatur mengenai furunkulosis menunjukkan bahwa bisul terutama merupakan persoalan infeksi bakteri dan faktor predisposisinya, bukan akibat konsumsi telur (Demos, McLeod and Nouri, 2012; Ibler and Kromann, 2014)


Jadi, masih takut makan telur karena bisul?

Kalau Anda memang memiliki alergi telur, tentu ceritanya berbeda. Telur mungkin memang harus dibatasi atau dihindari sesuai evaluasi tenaga medis

Tetapi kalau alasannya hanya:

“Katanya telur bikin bisulan…”

mungkin sudah waktunya kita pensiunkan mitos tersebut

Telur tidak berubah menjadi nanah setelah masuk ke dalam tubuh

Telur juga tidak memanggil Staphylococcus aureus untuk datang ke folikel rambut

Bisul adalah infeksi, telur adalah makanan

Kadang-kadang keduanya memang muncul dalam cerita yang sama

Tetapi berada dalam cerita yang sama tidak berarti yang satu menyebabkan yang lainnya

Dan mungkin di situlah pelajaran yang lebih besar

Dalam kesehatan, sesuatu yang sudah dikatakan berulang kali selama puluhan tahun belum tentu otomatis menjadi benar

Kadang yang dibutuhkan bukan pantangan baru

Hanya satu pertanyaan sederhana:

“Memangnya ada buktinya?”


Daftar Pustaka

American College of Allergy, Asthma & Immunology (2019) Egg Allergy: Causes, Symptoms & Treatment. ACAAI. Reviewed for accuracy 21 March 2019.

Basoni, S. (2026) ‘Kepala BGN cerita makan telur bikin bisulan, begini penjelasan ahli gizi’, detikFood, 24 July 2026.

Demos, M., McLeod, M.P. and Nouri, K. (2012) ‘Recurrent furunculosis: a review of the literature’, British Journal of Dermatology, 167(4), pp. 725–732. doi:10.1111/j.1365-2133.2012.11151.x.

El-Gilany, A-H. and Fathy, H. (2009) ‘Risk factors of recurrent furunculosis’, Dermatology Online Journal, 15(1), p. 16. doi:10.5070/D39NG6M0BN.

Ibler, K.S. and Kromann, C.B. (2014) ‘Recurrent furunculosis – challenges and management: a review’, Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology, 7, pp. 59–64. doi:10.2147/CCID.S35302.

Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (2026) ‘Dilantik Presiden Prabowo, Kepala BGN tegaskan komitmen perkuat transparansi dan akuntabilitas Program MBG’, 22 July 2026.

Myers, M. and Ruxton, C.H.S. (2023) ‘Eggs: Healthy or Risky? A Review of Evidence from High Quality Studies on Hen’s Eggs’, Nutrients, 15(12), p. 2657. doi:10.3390/nu15122657.

National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements (2022) Choline: Fact Sheet for Health Professionals. Bethesda, MD: National Institutes of Health.


Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari palguno.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca